di atas air, trip 1

Pengalaman baru lagi, ga kebayang sebelumnya bakal 2 minggu di laut dan 1 minggu di darat. Pekerjaan seperti ini saya rasa lebih cocok untuk laki-laki daripada perempuan, namun saya sangat bersyukur karena pernah merasakan dan akan rutin selama kira-kira 8 bulan lagi mengikuti jadwal yang seperti itu.

Di darat saya jadi lebih menghargai waktu

Disiplin tingkat tinggi dibutuhkan di atas air, bangun jam 4.30 WITA setiap hari, mandi, dan sholat (saya tidak tidur di laut/ sungai, pergi pagi dan pulang malam dengan kendaraan bernama sea truck, semacam speed boat). Saya diharuskan mengatur apa yang harus di bawa ke atas laut dengan sebaik-baiknya, karena uang tidak berguna di atas air. Saya diharuskan bergaul dengan berbagai kalangan dan dengan berbagai karakter orang lapangan yang berbeda-beda. Tidak bisa bergaul, lewat sudah lah kita karena mereka lah orang-orang sekaligus saudara terdekat dengan kita sehari-hari.

Begitu kembali ke darat saya menyadari jika waktu harus saya manfaatkan sebaik-baiknya. Istirahat sebaik-baiknya, karena ketika waktu naik datang lagi saya harus kembali pergi subuh dan pulang malam. Begitu di darat saya jadi lebih baik mengatur barang-barang pribadi saya, barang krusial apa yang saya butuhkan ketika saya tidak bisa beli apa-apa di atas air.

Di atas air saya jadi lebih menghargai hidup

Di waktu senggang saya sesekali mengobrol dengan sesama kru di atas barge kami. Tentang pekerjaan, tentang kehidupan. Berapa banyak orang yang tidak bisa bertemu setiap hari dengan keluarganya, berapa banyak orang yang di waktu senggangnya hanya bisa melihat keluarganya dari foto saja, karena untuk menelpon sinyal tidak ada.

Obrolan-obrolan ini menjadi biasa di atas air:

“buat kita lebaran itu ga ada bedanya dengan hari biasa, karena hbs solat biasanya langsung kerja lagi, saya aja udah sekian tahun ga pulang lebaran” 😦

“aku extend lagi nih jadwalnya seminggu lagi, istriku udah aku suruh berhenti kerja, biar bisa ngurusin anak, masa anaknya udah ga sering ketemu bapaknya masih harus ditinggal ibunya kerja” 😦

“saya paling lama di laut ga pulang-pulang itu 3 bulan, pernah juga baru nyampe bandara pas mau off udah di telpon lagi karena ada job lagi” 😦

yes, we are human are belong to the land, not to the sea..

Terpujilan orang-orang yang bekerja ikhlas demi keluarganya di laut sana, dan hanya sesekali menengok daratan bahkan sampai usia yang lebih dari separuh baya.

-balikpapan, oktober-november 2013-

Advertisements

Ketemu lagi sama air

ImageSaat ini, sehari-hari lebih lama ketemu air daripada ketemu darat

Borneo, belum afdhol seorang kuli minyak kalo belum menginjakkan kaki di sana, kata seorang teman

Sebagai manusia, ternyata ga mudah untuk hidup di air

kuat..kuat..kuat!!!

πŸ™‚

Β 

Β 

Jakarta, Ramadhan 1434 H, 2013 M

Jakarta, ini Ramadhan pertama kita, ramadhan yang biasanya menyuguhkan percakapan-percakapan nuansa sunda, tahun ini berganti dengan percakapan-percakapan nuansa betawi. Gaung suara mesjid, jangan ditanya, karena secara kebetulan dan sama sekali tidak disengaja aku berjodoh lagi dengan pemukiman sekitaran mesjid, sama seperti ketika di Bandung dulu, alhamdulillah.

Ramadhan tahun ini aku merasa lebih baik, karena ramadhan tahun ini ga ada hectic tesis, galau ga mudik karena nungguin jadwal sidang, dan tentu saja ga ada galau karena belum kerja, alhamdulillah storm was over :D.

Jakarta, jika Allah berkenan, mau sekali berjodoh denganmu mulai saat ini hingga saat-saat ke depan. walaupun banyak yang ingin kabur dari kota ini, aku tidak. Walaupun banyak yang mengeluh tentang kota ini, aku tidak. Walaupun banyak yang mengomeli ga rapinya kota ini..aku juga..hehe, karena aku ga sebaik itu, tapi aku akan mencoba memahami dan menjalani kota ini sekuat tenaga.

Jakarta, terimakasih masih menyediakanku sedikit tempat, makasih sudah mempertemukanku dengan orang yang memberi pengaruh besar dalam hidupku saat ini, makasih udah memberikan jalan padaku untuk berkarir, makasih..makasih..dan makasih..Aku rasa aku ga terlalu butuh keliling dunia, kecuali sesekali nanti, karena semua yang bikin aku bahagia sekarang ada di Jakarta.

Bismillah, Selamat berpuasa Jakarta πŸ˜€

setelah 254 hari yang lalu

254 hari yang lalu, wisuda s2, ipk cukup, ternyata cari kerja susah..

setelah 254 hari yang lalu, tes ini, tes itu, belum diterima dimana-mana

beberapa hari setelah 254 hari yang lalu, Jakarta, panas, no hope, tapi alhamdulillah selalu ditemani best supporter, pacar tercinta, Alex..makasi sayang πŸ™‚

kemudian..254 hari setelah 254 hari yang lalu..akhirnya sign kontrak juga, cilandak, oil and gas, sesuai cita-cita..alhamdulillah….

dan ternyata benar adanya jika Allah bersama orang-orang yang sabar, dan dibalik satu kesulitan itu terdapat dua kemudahan..

makasi mama, papa, abang, alex, dan semua teman-teman tersayang yang ga pernah bosan buat jd pendengar yang baik dan ga pernah bosan buat bilang “sabar”..

-pedurenan mesjid, awal juli2013-

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Catatanku

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan…

View original post 2,517 more words

amiret hisak racap!

racap!!

finally i’ve decided..who to be with..and i’m happy with u..

amiret hisak racap! πŸ˜€

 

Woman Reminder

Idealisme itu pelan-pelan luntur.

Kerja sesuai background pendidikan, dekat dengan lawan jenis yang minang lagi, kerja di luar negri, uang adalah segalanya, karir karir dan karir, mau kemana saja asal hatiku senang, cepat, cepat dan cepat, yg lambat ditinggalin, bosan bosan dan bosan, yg baik dicuekin kalo bosan sudah datang adalah idealisme-idealisme masa lalu, kira-kira masih aktif beberapa hari yang lalu dan sekarang kurang tegas sudah, hanya tersisa sedikit keharusan di dalamnya.

Semuanya perlahan luntur dan jadi semacam reminder buat gw kalo perempuan ga bisa egois mikirin diri sendiri karena nanti ada keluarga yang akan diurus, anak yang akan diperhatikan dan hubungan sosial yang harus dibina dengan baik dengan orang-orang sekitar yang mungkin ga sepemikiran dengan gw. Thx to my friend new babyborn yang sudah menyadarkan gw betapa hidup itu sungguh betapa..thx God I’m a woman! karena surga ada di telapak kaki ibu. Bismillahirrahmanirrahiiim, welcome unidealism life, that’s what we called NORMAL life.

pelancong hidup

entah sudah berapa kilometer hidup ini gw susuri

berputar-putar di lingkaran, kotak atau segitiga yang sama..atau..keluar sejenak dari bidang-bidang terkenal itu

untuk kemudian balik lagi..atau tidak lagi-lagi..

dan hari ini terngiang lagi kata-kata dari lelaki bijak itu

“semakin kau jalani hidup ini, semakin kau tau bahwa ga akan ada (pekerjaan) yang pernah selesai dalam hidup ini”

21 years of my life

have spent my time on study duty since 1991, of course i’m tired!, and i’m gonna miss this moments next year πŸ˜€