Gw ga bego, pintar jg ngga..sedang lah. Gw dari kampung yang penuh kesederhanaan dan sekarang tiba2 berhadapan dengan kota. Wajar kalo gw kaget dan terkesima melihat lampu2 itu. Wajar kalo orang di kampung menganggap gw berubah setelah dari kota karena gw emang ngerasa gw rada berubah. Gw ga bisa mempertahankan diri gw, gw ikut arus..sebagian diri gw tergantikan oleh peran2 aneh dari kota ini..
Kadang gw kangen dengan gw yang dulu, mungkin emang kampungan tapi gw yang apa ada nya. Ga kaya gw yang sekarang, udah kota tapi kadang merasa sisi kampungan itu belum hilang. Kadang bukan gw yang sadar kalo gw kampungan, kadang yang sadar cm orang2, tapi orang2 itu hanya mau mengoceh di belakang gw.
Lidah gw sebenarnya hanya dibekali untuk merespon rasa enak terhadap nasi padang. Tidak Spageti, pizza, salad, mayones, dan segala sesajen dari eropa dan amerika itu. Tapi keberadaan gw yang sudah di kota ini bikin gw ‘pura-pura’ di depan mereka, pura-pura kalo gw suka. Sudah menahun gw di sini, kampung gw berasa tambah jauh. Ntah apa gumaman orang2 di kampung, ntah berkata gw sombong, gw sudah hebat, atau gw terlalu tak terjangkau..Entahlah..
Kadang ingin kembali, tapi apa kata mereka yang di kampung..”mau ngapain balik ke kampung, bukankah di kota sudah enak?”. Kadang mau tetap tinggal di kota saja, tanpa kenal kampung itu di mana dan kesederhanaan itu apa, tapi mau sampai kapan gw pura2?
Andai saja gw bisa berkompromi dengan kampung, dengan kota..
Kampung, terima lagilah gw dengan segala kesederhanaanmu..
Kota, sudahilah kepura2an itu..
(hampir di ujung 2011, menuju tahun ke delepan, di KOTA)
*ga semua yang lu baca itu bener :p